Batang Anau di Belakang Rumah

Angin subuh bersijingkat mendaki janjang rumah gadang. Menyibakkan pintu yang sudah terkuak sedikit. Evi duduk merapat ke jendela, sambil menghirup aroma bunga sedap malam yang  masih menyisakan harum. Subuh telah berlalu. Seiring menyurutnya lantunan ayat suci yang  diperdengarkan oleh toa surau.

Evi tak jua beranjak, ia makin merapatkan duduk dan tangannya disandarkan pada kusen jendela. Matanya nan bening terus menerawang. Jauh menuju ambang pintu, tempat dua dunia bersinggungan. Di antara tidur dan terjaga.

Dari batang anau tua  di kejauhan, terlihat lumut hijau dan  benalu  yang panjang menjuntai.  Sesekali tumbuhan itu bergoyang. Seolah menyimpan seribu rahasia bisikan angin.

๐Ÿ๐Ÿฆ‹๐Ÿž

Semuanya bermula dari kabar burung di kampung Magek, yang teramat mengusik Evi. Tentang apa yang telah terjadi terhadap nenek. Tanda tanya atas menghilangnya nenek setiap kali senja menjelang. Namun, si gadis kecil  menginginkan bukti. Sehingga senja itu dengan berani ia melangkahkan kaki, menembus temaram di belakang rumah. Menuju parak yang berada di ceruk tebing nan lindap. Di sana tumbuh satu-satunya batang anau yang senantiasa menghantui Evi sedari kecil.  Tempat singgasana jin dan lelembut. Di situlah dunia orang bunian berada, begitu kata tetua yang sering didengarnya

Evi melangkah perlahan. Berusaha sepelan mungkin, agar derap kakinya tak terdengar oleh Nenek yang berjalan cukup jauh di depan. Membuntuti Nenek, itulah yang ia lakukan. Demi sebuah bukti, atas simpang siur yang selama ini menjadi santapan orang kampung. Bahwa Nenek sudah menikah dengan orang bunian. โ€œAku akan membuktikannya..!โ€ tekad Evi sudah bulat.

Evi menjaga tatapannya agar tak terlepas dari Nenek. Namun sekejap seolah terkecoh, Nenek menghilang..! Yang dilihatnya sekarang hanyalah sebatang anau dengan  rimbun semak belukar. Tak ada satupun jejak. Ia teruskan melangkah. Dadanya bergemuruh antara cemas kehilangan nenek, juga ketakutan akan suasana parak yang lindap mencekam.

Tiba-tiba, Evi berdiri di sebuah tempat yang sulit untuk diceritakan. Sebuah tempat berlapis kabut dengan udara yang pekat. Kala kakinya bergerak selangkah, udara terasa bergetar. Lalu terdengar bunyi-bunyian yang menggema. Betapa ia terpana melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

Di balik kabut itu terbentang dunia terang. Dengan telaga yang berkilau, beserta hamparan bunga laksana negeri dongeng. Berdiri di sana, sepasang wujud manusia nan sungguh elok rupawan. Lelaki itu terlihat seperti Legolas. Seorang Elf, peri hutan  yang pernah Evi lihat dalam film The Lord of the Rings. Dirinya sangat yakin inilah orang bunian itu,  ternyata sama sekali tidak menyeramkan. Mata Evi lalu beralih, menatap perempuan cantik yang berdiri di sisi kanan telaga. Perempuan yang sekilas seperti jelmaan Arwen tersebut, sedang menatapnya dengan penuh rasa terkejut. Evi segera mengenalinya. Perempuan itu adalah nenek semasa muda..!

Pemandangan ganjil yang ada dihadapan tak ayal membuatnya limbung. Nenek benar-benar telah  menikah dengan orang bunian. Ia sudah menyaksikan sendiri.

Tak tahu  lagi apa yang harus dilakukan. Dengan dada sesak menahan tangis, gadis itu berbalik lalu berlari kencang. Tak memedulikan nenek yang berteriak memanggilnya, โ€œEvii.. eviiiiโ€ฆ..!โ€

…ia terus berlari kencang menuju tempat kembali | ke ambang pintu | tempat dua dunia bersinggungan.

๐Ÿ๐Ÿฆ‹๐Ÿž

โ€œEviii.. cepatlah bangun,  nenek mau minta tolong..โ€ samar  terdengar suara perempuan yang begitu dikasihinya. Semakin lama suara itu semakin jelas, diiringi goncangan lembut dan rasa sejuk di bahunya. Susah payah Evi membuka mata.  Dilihatnya senyum nenek  mengembang hangat.

โ€œTak baik anak gadis tidur lagi sehabis subuh”

“..nenek sudah memetik cindawan di parak belakang.. tolong belikan karambia di kedai Mak Saih, kita akan menggulai cindawan untuk sayur siang nantiโ€ lanjut nenek meminta tolong.

Dengan dada yang masih bergemuruh ia menatap Nenek. Mencari rahasia yang mungkin disembunyikan oleh mata  yang telah menua tersebut. Tak menemukan apa-apa, ia pun  lalu menyapukan pandangan ke sekeliling rumah. โ€œEyampun, Nek.. rupanya Evi tadi  talalok di jendela dan  bermimpi aneh sekali.โ€ Nenek hanya tersenyum penuh arti mendengar penuturan cucunya.

Dari batang anau tua di kejauhan, terlihat  lumut hijau  dan benalu yang panjang menjuntai. Angin pagi melenggang menaiki janjang rumah gadang. Menguakkan pintu lebar-lebar dan burung kecil mencericit riang.

๐Ÿ๐Ÿฆ‹๐Ÿž

embusan angin di waktu fajar akan menceritakan rahasia kepadamu | janganlah tidur kembali | mintalah apa yang sungguh-sungguh kau inginkan | janganlah tidur kembali | orang-orang pergi dan kembali melalui ambang pintu tempat dua dunia bersinggungan | pintu itu terbuka lebar | janganlah tidur kembali.

[Jalaluddin Rumi, abad ketiga belas]

Artikel Pilihan : Pohon Aren di Belakang Rumah

First GA

Pingin Turut Bikin Rame First Give Away Jurnal Evi Indrawanto

note: di antara ratusan artikel  uni Evi,  tak satupun yang geje..
maka ijinkanlah eLJe bikin geje JeTe, sekali iniiii ajah..! ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

note lagi: tulisan ini mendapat apresiasi tak terduga dari uni Evi dan uncle Lozz.. ALhamdulillah. ๐Ÿ’œ

Lebu Ketiup Angin

Wetonku dan Buyung Saga sama persis, Sabtu Wage. Membaca dari beberapa artikel tentang weton dikatakan bahwa weton jawa yang lahir hari Sabtu Wage punya Neptu 13 dari Sabtu 9 Wage 4. Weton Jawa Sabtu Wage dinaungi oleh Lebu Ketiup Angin yang artinya selalu berpindah pindah tempat, baik pekerjaan maupun rumah.

Katanya rejeki kami juga gampang tertiup angin, yang ini sih, tidak perlu diambil hati ya. Yang jelas benar adanya kami sudah berpindah rumah lagi dan aku pindah kantor yang keenam kali, alamak jang!

Koto Gadang, Kecamatan Padang Ganting, Kabupaten Tanah Datar

Aku punya keyakinan akan bertugas di Koto Gadang sampai masa pensiun. Sudah membayangkan si buyung bakal sekolah TK – SD – SMP – SMA di kecamatan Padang Ganting. Ternyata hanya sempat merasakan TK di sana selama 6 bulan saja. Padahal kami sudah sering jalan kaki sore ke SD yang direncanakan bakal jadi sekolahnya si buyung saga. Melihat-melihat pekarangan sekolah di kampung yang umumnya luas, serta sawah juga bukit yang jadi pemandangan indah di belakang sekolah.

Kami pindah kemana? kali ini pindah ke kampung halaman sungguhan, tanah kelahiran bapaknya saga. Tempat di mana aku mengenyam masa SD dan SMP. Tidak ada permohonan mutasi dari aku pribadi, ini kebijakan dari kepala dinas yang tentu saja menggembirakan bagi kami.

Ada tiga orang yang dimutasi, kebetulan salah satunya adalah sejawatku warga Koto Gadang yang selama ini pulang pergi bertugas lumayan jauh ke danau Singkarak. Sehingga solusi terbaik diriku digeser agar kami sama-sama dapat bertugas lebih dekat ke kampung halaman masing-masing.

Kabupaten ini luas. Sehingga perkara mutasi tidaklah mudah bagi yang pernah mengalaminya. Jarak antar kecamatan cukup jauh, tidak seperti di kota jarak ke kecamatan sebelah hanya sepelemparan sandal.

Di kota Bukittinggi ataupun Jogja, biasanya ada mutasi rutin. Rolling pertukaran petugas setiap 5 tahunan. Tidak begitu banyak kendala, karena jarak antar kecamatan umumnya dekat sekali. Sehingga kantor yang baru tetap dapat dicapai dengan mudah dari rumah.

Alhamdulillah, diriku mutasi ke kampung halaman. Tidak perlu memikirkan akan tinggal di mana, karena ada rumah kosong yang bisa kami tumpangi. Hanya perlu sedikit repot karena harus mengemasi barang-barang yang ternyata lumayan menguras tenaga juga.

Sebagai ingatan untuk buyung saga, aku tuliskan di mana ia pernah tinggal selain di tempat kelahirannya Sorosutan, Wirosaban Kota Yogyakarta

Tapi Selo

Saga menyebutnya Rumah Kakak Icha, karena kami bertetangga dengan Icha sekeluarga. Pemilik rumah adalah makwo-nya Icha, yang tinggal di rantau. Bertempat di tepi sungai Batang Selo, sehingga dikenal dengan sebutan kampung Tapi Selo. Rumah ini kami tempati saat awal bertugas di Koto Gadang, hanya dua bulan saja, sementara menunggu rumah dinas bisa kami huni.

Tapi Selo, Koto Gadang, Padang Ganting

Yang sepertinya berkesan bagi Saga, rumah ini berada persis di depan Surau Katapiang. Setiap sore ramai dengan anak-anak yang belajar Al-Qur’an. Sehabis ashar, halaman rumah sewaan ini dijadikan tempat berjualan minuman dan makanan kecil oleh ibunya Icha. Tentu saja menyenangkan bagi Saga, karena bisa ikut beli jajanan di ibunya Icha.

Kampung Sudut

Setelah dua bulan, ada dua rumah dinas yang bisa ditempati. Satu berada dalam pekarangan Puskesmas, satu lagi berada di belakang balai (pasar). Aku memilih rumah dinas yang berada dekat balai, karena di sana bertetangga dengan pegawai puskesmas yang mempunyai anak seusia saga. Disebut kampung sudut, karena memang hanya berupa satu sudut saja berisi 4 rumah, sisanya sawah dan balai.

Pilihan yang tepat, karena saga bisa leluasa bermain di sana dengan teman-temannya. Sekali seminggu ikut merasakan kesibukan warga, dari pagi buta menyiapkan barang dagangan. Yang paling berkesan tentu saja beraneka jajanan pasar yang tidak kaleng-kaleng enaknya.

Si buyung dan penghuni kampung sudut, tante bidan intan + indri, om satpam fadli dan om beri petugas rekam medis

Pemandangan di sekitar Puskesmas, terlihat Sungai Batang Selo

Selamat tinggal kotogadang, padang ganting dan sekitarnya. Meskipun masih satu kabupaten, kami akan sangat jarang melewati kawasan ini, karena berlawanan arah dengan kota Bukittinggi. Sekarang bisa pulang ke rumah aur tiap minggu karena jaraknya menjadi semakin dekat.

Kampung Datar

Di sinilah kami sekarang, tinggal di rumah neneknya Saga dari pihak bapak. Tinggal di rumah bako begitu sebutannya di ranah minang. Kampung sini berada pada dataran lumayan luas, sehingga disebut kampung Datar. Sedangkan perkampungan tetangga ada yang berada di lereng bukit, tepi lembah, puncak bukit dan tepi telaga.

Negeri berkabut dan gerimis senantiasa, indah jika dituliskan. Tapi tidak begitu indah pada kenyataannya, kami malas mandi karena kedinginan terus menerus dan cucian susah keringnya.

TK-nya saga berada di satu tanjakan lereng bukit, menjemputnya pulang sekolah adalah sesuatu banget buat emaknya ini, harus atur napas. Namun dia senang dan antusias karena dari sekolah terlihat jelas puncak gunung Marapi yang kemarin ini erupsi terus-terusan. Saga bilang, gunungnya meledak!

***

Sekarang si buyung sudah SD, di sebelah puskesmas. Jika uang jajannya kurang, biasanya jam istirahat dia muncul minta tambah uang dua ribu.

Desember 2024, sudah kelas 2 SD. Pelihara 5 kambing.

Oktober 2025, kelas 3 SD, uang jajan sudah mengalami kenaikan menjadi 7 ribu